Supaya Adek-adek Sayang Koleksi Sejarah



JAKARTA, — Sejak pukul 07.00, Minggu (30/5/2010) Edi (62) duduk di lantai museum Sejarah Jakarta menganyam lembaran rotan tipis satu persatu.

Edi bukanlah perajin anyaman. Dia adalah petugas konservasi museum Sejarah Jakarta yang sedang menambal dudukan kursi abad ke-18 yang merupakan koleksi sejarah museum. Proses perbaikan kursi sejarah peninggalan Vereenidge Oostindische Compagnie (VOC) tersebut sengaja dipertontonkan kepada pengunjung. "Supaya adek-adek merasa sayang sama koleksi, mempertanggung jawabkan kelestariannya," ujar Edi di sela-sela pekerjaannya.

Sebanyak tiga kursi yang diperbaiki Edi dan kawannya hari ini, menurut Edi, rusak karena ulah usil pengunjung. "Rusaknya karena ulah tangan manusia, dipakai duduk, sengaja dirusak pakai tangan," katanya.

Proses perbaikan kursi bersejarah tersebut tetap mempertahankan keaslian nilai sejarahnya. Dalam memperbaiki, Edi diharuskan memperlihatkan secara jelas mana bagian yang merupakan anyaman asli, dan mana yang anyaman baru. "Anyaman baru enggak boleh dicat, Mbak, enggak boleh dicat lagi, harus kelihatan mana yang baru dan mana yang lama," ujarnya.

Kerangka kursi-kursi itu terbuat dari kayu jati. Warna pelitur kerangka kursi tampak mulai memudar. Dudukan kursi terbuat dari anyaman rotan. Pada salah satu kursi tergantung papan nama bertuliskan kalimat "Kursi bundar, terbuat dari kayu jati, gaya Louis XIV asal abad 18."

Menurut Edi, pihaknya tidak menjadwalkan waktu renovasi koleksi secara berkala. "Ya bagaimana kondisi koleksi. Kalau sudah perlu diperbaiki, ya diperbaiki," imbuhnya.

Sekitar pukul 15.00, lanjut Edi, ketiga kursi bersejarah itu akan selesai ditambal. Semoga kemudian tidak ada lagi tangan usil yang merusak koleksi sejarah museum sejarah Jakarta atau yang dikenal dengan Museum Fatahillah. (KOMPAS.com)

1 komentar:

Comment

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner