Ford Ketar-ketir dengan Tindakan Hugo Chavez

Akhir 2009, Presiden Venezuela Hugo Chavez menggemparkan dunia otomotif dengan mengancam akan mengusir produsen mobil terbesar di dunia, Toyota (Kompas.com, 28 Desember 2009) jika tidak melakukan transfer teknologi. Belum genap sebulan, kini giliran Ford yang ketar-ketir. Ada apa lagi?

Kasus yang menimpa salah satu pabrikan mobil terbesar di Amerika itu lain. Bukan karena ada tuntutan, melainkan mereka bakal tidak bisa mengeduk keuntungan lagi. Padahal, negara penghasil minyak merupakan "lumbung" uang bagi Ford.

Penyebabnya, orang nomor satu di Venezuela, Chavez, melakukan devaluasi (menaikkan) nilai mata uang Venezuela hingga 50 persen dari 2,15 menjadi 4,3 bolivar per dollar AS. Tindakan itu dilakukan untuk memperkuat kondisi keuangan pemerintah dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Namun, hal itu justru mengancam pendapatan industri otomotif di negeri tersebut.

Ford Motor Company (FMC) paling terkena dampak karena penjualannya cukup bagus di negara Amerika Latin tersebut. "Devaluasi yang terjadi sangat mengkhawatirkan dan berdampak buruk pada bisnis kami. Bahkan, mereka mengancam mengirim pasukan militer jika ada produsen mulai menaikkan harga," komentar Jim Farley selaku Ford Global Marketing, Sales, and Service seperti dikutip Detroitnews pada 14 Januari 2010.

Masuknya Ford di Venezuela mampu merealisasikan pembangunan pabrik dengan luas 4,64 hektar di negeri itu (Valencia) dan menjadi basis produksi untuk model Fiesta, Explorer, Ranger, dan beberapa pick-up F-series. Kehadiran pabrik bahkan mampu menciptakan 2.000 lapangan pekerjaan dan pemasukan dari ekspor ke pasar Amerika Selatan.

Ford mampu meningkatkan penjualan di Amerika Selatan dan bahkan telah melakukan berbagai investasi besar untuk menangkap pasar di kawasan tersebut.
"Tahun lalu, Venezuela merupakan pasar yang kritis buat kami. Kami sudah berkomitmen dengan modal usaha di negara ini," papar Farley.

1 komentar:

Comment

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner