Kenapa Pejabat Pilih Vila Bodong di TN Gunung Halimun?

Jakarta - Taman Nasional Gunung Halimun menyimpan sejuta pesona. Puluhan air terjun hingga kawah air panas tersedia. Tak heran, banyak pejabat yang rela merogoh koceknya untuk sekedar beristirahat di tanah pemerintah tersebut.

Sebelum tiba di lokasi, kita memang akan disuguhi ruwetnya angkot di sekitar kawasan kampus IPB Darmaga. Jalan yang sempit dan berkelok sempat mengerutkan dahi untuk menuju lokasi.

Namun, setibanya di gerbang Taman Nasional, pemandangan lain akan terlihat. Pada 10 kilometer pertama, hanya vila-vila bodong itu yang bisa dipandang.

Setelah itu, hamparan pemandangan hijau lembah gunung Salak akan menyejukkan mata kita. Ditambah dengan rindangnya pohon pinus dan semak belukar yang masih asri.

Tidak cukup dengan itu. Coba saja datangi puluhan objek wisata alam yang banyak di kawasan tersebut. Ada air terjun Pangeran, kawah, sungai, dan lain-lain.

"Di lokasi itu banyak air terjun, kawah yang bisa dimanfaatkan dengan baik
sebenarnya," kata Camat Pamijahan, Mulyadi saat ditemui detikcom di kantornya, Rabu (3/2/2010).

Pemandangan indah terlihat dari vila milik mantan KSAD Ryamizad Ryacudu. Meski vila yang ditempati kecil, tapi pemandangannya sungguh luar biasa.

Hamparan sawah yang luas dan suasana saat matahari terbenam di lokasi tersebut sangat menakjubkan.

Sedangkan dari vila milik mantan menteri Zarkasih Nur, kita bisa melihat gunung Salak dengan jelas. Vila-vila milik artis seperti Ahmad Albar dan Hary Capri juga posisinya berada di sekitar lereng.

"Di sini memang enak. Banyak air terjun. Makanya kalau liburan, orang Jakarta doang yang ke sini. Apa lagi tahun baru. Penuh sekali," kata Eddi, penjual makanan di lokasi.

Meski indah, kepemililkan vila di lokasi tersebut tetap bermasalah. Sebab lahan seharusnya digunakan untuk pertanian dan perkebunan bukan rumah dan bangunan semi permanen. Terlebih dipakai resort untuk usaha.

Pemerintah setempat sudah berusaha memperingatkan para pemilik vila untuk membongkar sendiri bangunannnya. Namun, hingga kini tidak digubris. Keberadaannya juga mulai dikeluhkan warga sekitar karena mengancam ketersediaan air.

"Coba para peneliti dari universitas cek air kami. Pasti ada masalah," kata Mulyadi menambahkan.

1 komentar:

Comment

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner